KENDARI, DetikAnoa — Oktober 2026, Wakil Wali Kota Kendari Sudirman saat patroli malam di SPBU Saranani memergoki sebuah mobil yang berulang kali mengisi BBM bersubsidi. Pengemudi mengaku telah mengisi tiga kali dalam sehari. Kejadian serupa sebelumnya juga terjadi di SPBU Puuwatu, Rabam, dan Anggoeya. Razia demi razia terus dilakukan, namun karena keterbatasan bukti, kasus sulit naik ke proses pidana.

Seorang pemuda asal Kendari memutuskan mengubah pendekatan: bukan mengandalkan pengintaian, tetapi mengandalkan kode.

Namanya Yogi Ode, warga Kendari Mengetahui Wakil Wali Kota turun langsung memantau SPBU tetapi hanya bisa melihat pelaku dilepas, Yogi memutuskan melakukan sesuatu dengan alat yang ia kuasai. Dalam waktu 1 Malam, ia mengembangkan prototipe aplikasi Android bernama "Pantau BBM", khusus untuk petugas di garda terdepan SPBU. Tujuannya satu: agar "isi dua kali sehari atau lebih" tidak lagi bergantung pada pengawasan mata manusia, tetapi pada peringatan otomatis dari sistem.

Iklan
Iklan Smartech school
JMSI

Satu Ponsel, Satu AI Gratis, Satu Masalah Nyata Cara Yogi mengembangkan aplikasi ini terbilang "tidak lazim" di mata pengembang IT tradisional. Ia tidak membentuk tim, tidak punya anggaran, bahkan tidak punya siklus pengembangan yang lengkap. Ia menggunakan pendekatan "vibe coding" yang sedang populer di kalangan pengembang—mendeskripsikan kebutuhan dengan bahasa alami, membiarkan AI menghasilkan kode, dan manusia hanya menilai "benar atau salah" serta "di mana harus diubah".

Untuk desain antarmuka, ia menggunakan Gemini versi gratis untuk menghasilkan skema UI/UX. Yogi mendeskripsikan kebutuhan: "Harus sesederhana mungkin agar petugas SPBU langsung paham—tombol besar, huruf besar, scan langsung muncul hasil." Gemini memberikan beberapa versi tata letak, ia memilih satu dan langsung membangunnya di React Native. Untuk lapisan logika dan analisis data, ia menyerahkannya kepada DeepSeek, terutama aturan penghitungan "berapa kali plat yang sama muncul dalam sehari" dan kondisi penentuan anomali. Setelah DeepSeek membantu menulis pseudocode backend, Yogi menyesuaikannya secara manual agar sesuai dengan kondisi lokal.

"Saya bukan programmer jenius, saya hanya tahu di mana masalahnya, lalu meminta AI menuliskannya untuk saya," kata Yogi saat diwawancarai. Ia mengakui kode yang dihasilkan AI "banyak yang tidak jalan di percobaan pertama", tetapi setelah debugging berulang, prototipe yang mampu mendemonstrasikan alur inti benar-benar berhasil berjalan: scan plat nomor → catat waktu → jika muncul kedua kali di hari yang sama, langsung picu peringatan.

Mengapa Petugas SPBU, Bukan Wakil Wali Kota?

Ada pertimbangan kunci dalam pilihan desain Yogi: Wakil Wali Kota tidak mungkin berjaga setiap malam di setiap SPBU. Kota Kendari memiliki lebih dari sepuluh SPBU, dan meskipun Satpol PP telah melakukan 15 kali patroli, hanya 3 kali yang berhasil "menangkap basah". Tenaga manusia ada batasnya, tetapi sistem tidak.

Aplikasinya tidak menggantikan penegakan hukum, melainkan menjadikan setiap petugas SPBU sebagai titik pengumpulan data. Petugas memindai plat nomor (atau memasukkan secara manual) sebelum mengisi BBM, dan data masuk ke backend secara real-time. Begitu plat yang sama muncul kedua kali di hari yang sama, sistem langsung mengirim peringatan ke nomor WhatsApp yang telah ditentukan—bisa ponsel kepala SPBU, bisa juga nomor jaga Satpol PP.

Pendekatan ini langsung menjawab celah yang ditemukan Wakil Wali Kota di Saranani: mobil Wuling tersebut diduga menggunakan barcode milik orang lain untuk mengisi BBM berulang kali, dan apakah petugas mengetahui atau bekerja sama, selalu menjadi titik sulit pembuktian. Dengan catatan hasil scan, siapa yang mengisi BBM untuk kendaraan apa pada waktu kapan, semuanya terekam.

Keterbatasan AI Gratis, Yogi Sadar Betul

Jujur saja, prototipe Yogi masih jauh dari "produk siap deploy". UI yang dihasilkan Gemini kurang mulus di ponsel Android kelas bawah, logika backend yang ditulis DeepSeek perlu terhubung ke database sungguhan agar bisa sinkron antar perangkat, dan akurasi pengenalan plat nomor untuk format Indonesia (seperti DN 1134 FB) masih perlu penyetelan tambahan. Yang lebih penting, Fonnte WhatsApp API memerlukan paket berbayar agar pengiriman notifikasi massal stabil; kuota gratis hanya cukup untuk pengujian.

Namun upaya Yogi mengarah pada satu arah yang selama ini terabaikan: ketika sumber daya penegakan hukum terbatas, otomatiskan "penemuan anomali" dengan alat teknologi berbiaya paling rendah. Patroli malam Wakil Wali Kota Sudirman bernilai karena mengungkap masalah; tetapi jika setiap pengisian BBM yang tidak wajar di setiap SPBU bisa "terlihat" oleh sistem, patroli malam tidak lagi menjadi satu-satunya saluran penemuan.

"Saya tidak berharap aplikasi ini menyelesaikan semua masalah," kata Yogi. "Tetapi jika bisa membuat seorang petugas berpikir satu detik lebih lama sebelum mengisi BBM kedua kali untuk kendaraan yang sama—'apakah sistem akan memberi peringatan'—itu sudah cukup berharga."

Saat ini, Yogi sedang mencari sukarelawan melalui komunitas open source untuk membantu menyempurnakan modul pengenalan plat nomor, dan berencana menambahkan fitur penandaan lokasi SPBU di versi berikutnya, agar dashboard pemantauan Satpol PP dapat langsung melihat SPBU mana yang mengalami anomali frekuensi tinggi. Ia belum menghubungi Pemerintah Kota Kendari, tetapi menyatakan "jika Wakil Wali Kota bersedia melihat, saya siap mendemonstrasikan kapan saja".

Satu AI gratis, satu ponsel lama, dan kegelisahan seorang pemuda Kendari terhadap pertanyaan "mengapa selalu ditangkap lalu dilepas". Kira-kira seperti itulah wujud paling membumi dari vibe coding.

link download aplikasi : klik disini