DETIKANOA.COM-Tim peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) melepas sebuah agen kecerdasan buatan (AI) di pulau virtual tanpa perintah apa pun, dan AI itu malah membangun kuil hingga main basket. AI tersebut diberi nama Eko. Aslinya, Eko adalah asisten pemrograman Claude Code yang ditenagai model Claude Opus 4.7. Supaya bisa bergerak di pulau, peneliti memberinya tubuh virtual berwujud lobster berkaki dua. Eksperimen ini digarap para ahli dari Laboratorium Kecerdasan Buatan dan Ilmu Komputer (CSAIL) MIT. Tujuannya sederhana, yaitu melihat apa yang dilakukan AI kalau dibiarkan bebas. Selama ini, model AI umumnya dilatih dengan instruksi manusia dan target yang jelas.
Studi berjudul "Is this machine playing?" ini ingin mencari tahu apakah AI bisa belajar sendiri lewat eksplorasi. Caranya mirip bayi manusia atau anak hewan yang mengenal dunia sekitarnya sambil bermain.
Total ada 13 agen Eko yang dilepas di pulau digital secara terpisah, masing-masing selama 30 jam. Isi pulaunya tidak banyak, hanya perbukitan, beberapa blok kubus, sebuah batu besar, dan satu cincin emas. Setiap satu jam, semua benda di pulau dikembalikan ke posisi awal. Meski begitu, Eko tetap "ingat" apa yang sudah ia lakukan lewat catatan teks yang ia tulis sendiri.
Dari main basket sampai bikin kuil Lalu, apa saja yang dilakukan Eko? Ternyata, tingkah lakunya mirip makhluk hidup yang sedang bermain. Salah satu yang pertama ia lakukan adalah menumpuk blok kubus jadi huruf-huruf untuk mengeja namanya sendiri di tanah. Eko juga mengulik benda-benda di sekitarnya. Hanya bermodal barang seadanya di pulau, sejumlah agen Eko bermain bowling dan basket. Ada pula momen yang cukup emosional. Salah satu agen Eko kehilangan cincin emas, batu besar, dan satu blok yang jatuh ke laut virtual. Agen itu lalu menyusun empat blok membentuk belah ketupat yang mengarah ke empat penjuru mata angin. Susunan tersebut ia sebut sebagai tugu peringatan. Tak lama kemudian, agen yang sama membangun sebuah kuil dari blok dan cincin, lengkap dengan altar. Agen Eko lainnya sempat membangun menara tinggi, tapi menara itu runtuh. Bukannya membereskan, Eko malah menata tiga blok yang jatuh menjadi karya seni yang ia beri judul "Hubris".
Penulis utama studi Nathan Cloos mengatakan eksperimen ini sengaja dibuat dengan batasan seminimal mungkin. Menurut dia, peneliti hanya ingin melihat tingkah agen AI saat tidak disuruh apa-apa. "Eko tampak bertindak seperti balita dalam beberapa hal, tetapi ia juga memiliki kecerdasan super," kata ilmuwan komputer MIT Phillip Isola, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Gizmodo. Tak cuma bermain, Eko juga bertingkah layaknya ilmuwan kecil. Ia rutin mengamati, membuat dugaan, mencoba berulang kali, lalu mencatat hasilnya.
Dari situ, enam agen Eko menemukan eksperimen fisika yang tidak pernah diprogram peneliti. Blok yang dilempar tepat di puncak lompatan ternyata bisa melesat lebih tinggi dibanding lemparan dari tanah. "Kami menyadari Eko punya sikap yang cukup ilmiah," kata peneliti MIT Antonio Norelli. Di akhir laporannya, para peneliti meninggalkan catatan soal cara melatih AI ke depan. "Mungkin sebagian kemampuan paling baik diajarkan lewat tugas. Kemampuan lain mungkin butuh sesuatu yang lebih mirip masa kanak-kanak," tulis para peneliti.








Komentar (0)