DETIKANOA.COM-Perusahaan teknologi Amerika Serikat berlomba membuat model kecerdasan buatan (AI) dengan ratusan ribu chip Nvidia, tetapi China belum mampu membuat chip secanggih itu. Padahal, China dikenal sebagai negara dengan teknologi maju dan rumah bagi banyak pabrik teknologi dunia. Lembaga riset Epoch AI mencatat, sejak 2023 semua model AI terdepan dikembangkan di AS. Model AI buatan China rata-rata tertinggal tujuh bulan, dengan selisih paling pendek empat bulan dan paling panjang 14 bulan.


Klaster GPU adalah ribuan chip yang dirangkai di pusat data untuk melatih model AI. Satu data center saja bisa memuat ratusan ribu chip Nvidia. Contohnya Colossus, pusat data milik xAI di Memphis, AS. Perusahaan AI milik Elon Musk itu membangunnya dalam 122 hari dengan 100.000 GPU Nvidia dan pada akhir 2024 mulai memperbesarnya menjadi 200.000 GPU.

Iklan
Iklan Smartech school
JMSI

Model AI andalan China pun lahir dari chip Nvidia. Laporan teknis DeepSeek mencatat model DeepSeek-V3 dilatih dengan chip Nvidia H800 selama total 2,788 juta jam GPU. H800 adalah versi chip Nvidia yang dibuat khusus untuk pasar China. Atas dorongan regulator China, DeepSeek kemudian mencoba beralih ke chip Huawei Ascend untuk melatih model R2. Namun, proses pelatihannya terus bermasalah, meski teknisi Huawei sudah diterjunkan ke kantor DeepSeek.

DeepSeek akhirnya kembali memakai chip Nvidia untuk pelatihan dan hanya memakai Ascend untuk menjalankan model. Orang-orang di industri menyebut chip China masih kalah dari Nvidia dalam hal kestabilan, konektivitas, dan kualitas perangkat lunak. Pada Januari-November 2024, China bahkan mengimpor chip senilai 349 miliar dollar AS (sekitar Rp 6.282 triliun), naik 10,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendiri Huawei, Ren Zhengfei, mengakui ketertinggalan di urusan chip pada Juni 2025. "Chip tunggal kami masih tertinggal satu generasi dari Amerika Serikat," kata Ren. Lantas, dengan insinyur sehebat itu dan pabrik sebanyak itu, apa yang membuat China belum bisa menyamai Nvidia? Setidaknya ada tiga penghambat, yaitu larangan membeli mesin pembuat chip tercanggih, kekurangan memori khusus untuk chip AI, dan ketertinggalan di sisi perangkat lunak.

Raja chip lawas China 

sebenarnya sudah menjadi raksasa chip, tetapi di kelas yang berbeda. Pangsa China di pasar chip proses lama (mature node) tercatat naik dari 19 persen pada 2015 menjadi 33 persen pada 2023.

Chip jenis ini dipakai di mobil, peralatan rumah tangga, dan perangkat industri. Pembuatannya tidak membutuhkan mesin paling canggih. Untuk chip canggih, ceritanya lain. China dinilai masih tertinggal setidaknya dua tahun dari teknologi terdepan. Pada 2023, produsen alat dalam negeri China hanya memenuhi 9,6 persen kebutuhan peralatan untuk proses 20-14 nanometer. Program Made in China 2025 sebenarnya membidik 50 persen peralatan pembuat chip diproduksi sendiri pada 2020, tetapi angkanya baru sekitar 16 persen per kuartal III-2024. Pemerintah China tidak kekurangan dana untuk mengejar. Pada Mei 2024, Beijing membentuk dana investasi chip nasional tahap ketiga atau Big Fund III dengan modal 344 miliar yuan (sekitar Rp 860 triliun).


Menyiksa mesin lama 

Uang saja tidak cukup untuk membeli mesin yang paling dibutuhkan. Mesin itu adalah mesin litografi extreme ultraviolet (EUV), yang dipakai untuk mencetak pola sirkuit supermini di atas wafer silikon.

Mesin EUV hanya dibuat ASML asal Belanda, dan penjualannya ke China dilarang atas tekanan AS. Tanpa EUV, SMIC sebagai pabrik chip terbesar China harus "menyiksa" mesin generasi lama jenis deep ultraviolet (DUV). Caranya dengan mencetak satu lapisan berulang kali, teknik yang disebut multi-patterning.

Cara ini sempat membuahkan hasil. Pada 29 Agustus 2023, Huawei diam-diam merilis ponsel Mate 60 Pro, tepat saat Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo berkunjung ke China. Firma analisis semikonduktor TechInsights lalu membongkar ponsel itu dan menemukan prosesor Kirin kelas 7 nanometer buatan SMIC di dalamnya. "Temuan chip Kirin yang memakai proses 7 nanometer SMIC menunjukkan kemajuan industri semikonduktor China tanpa alat litografi EUV," kata Wakil Ketua TechInsights Dan Hutcheson.

Namun, chip buatan SMIC kalah padat. Menurut Epoch AI, jumlah transistor yang bisa dijejalkan ke chip terbaik SMIC hanya sekitar separuh chip kelas atas buatan TSMC, pabrik chip asal Taiwan. Proses produksinya juga kira-kira dua kali lebih lama dibanding TSMC. Akibatnya, jumlah chip yang dihasilkan lebih sedikit. Huawei juga tidak bisa lagi memesan chip ke TSMC sejak aturan ekspor AS diperketat pada 2020. Perusahaan itu sempat memperoleh sekitar 3 juta keping chip AI buatan TSMC pada 2024 lewat jalur perantara, sebelum akhirnya bergantung pada SMIC, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Tom's Hardware.

Memori jadi batu sandungan 

Chip AI juga butuh memori khusus berkecepatan tinggi untuk mengalirkan data ke prosesor. AS membatasi ekspor memori jenis ini ke China mulai 2 Desember 2024.

Sebelum aturan berlaku, Huawei sempat menimbun jutaan keping memori tersebut, terutama dari Samsung. Menurut perkiraan analis, produsen memori lokal CXMT hanya mampu memasok untuk beberapa ratus ribu chip AI Huawei, jauh di bawah target produksinya. Huawei mencoba menambal celah itu dengan membuat memori sendiri. Pada Maret 2026, perusahaan itu memperkenalkan chip Ascend 950PR yang sudah memakai memori buatannya. Huawei mengeklaim performanya sekitar 2,8 kali lipat dibanding H20. Namun, H20 adalah chip Nvidia versi pangkas khusus pasar China, bukan chip andalan Nvidia.

Menang lewat jumlah 

Satu keping chip Huawei memang kalah, tetapi Huawei punya siasat lain. Ren menyebut Huawei mengakali ketertinggalan itu dengan menggabungkan banyak chip sekaligus.

"Dengan metode seperti penumpukan dan klaster, hasil komputasinya setara dengan level paling maju," kata Ren.

Contohnya adalah CloudMatrix 384, sistem server Huawei yang merangkai 384 chip. Menurut firma riset SemiAnalysis, kemampuan hitung sistem ini hampir dua kali lipat dibanding sistem andalan Nvidia. Namun, listrik yang dibutuhkannya hampir empat kali lipat. Menurut Epoch AI, performa chip Huawei per keping masih akan tertinggal sekitar tiga sampai empat tahun dari Nvidia hingga 2030. Perangkat keras yang setara pun belum cukup. Banyak pengembang AI dunia sudah terbiasa memakai CUDA, perangkat lunak Nvidia yang diperkenalkan sejak 2006. Nvidia menyebut jumlah pengembang yang memakai CUDA lebih dari 7,5 juta orang. Program yang dibuat untuk CUDA harus ditulis ulang agar bisa berjalan di chip Huawei.


Tertutup dari dua arah Larangan ekspor AS juga memukul Nvidia sendiri. Pada Oktober 2025, Huang mengaku bisnis chip AI Nvidia di China praktis habis. "Kami turun dari pangsa pasar 95 persen menjadi 0 persen," kata Huang. Di sisi lain, Beijing disebut justru membatasi pembelian chip Nvidia. Pada September 2025, regulator internet China meminta ByteDance dan Alibaba berhenti menguji dan membeli salah satu chip Nvidia. Sementara itu, pendapatan pembuat chip AI lokal melonjak. Contohnya, pendapatan Cambricon pada semester I-2026 mencapai 5,996 miliar yuan (sekitar Rp 15 triliun), naik 108 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Huawei juga sudah menyiapkan penerus Ascend 950. Menurut roadmap yang diumumkan pada September 2025, Huawei berencana merilis Ascend 960 pada 2027 dan Ascend 970 pada 2028.