DETIKANOA.COM–Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut menghabiskan berjam-jam bertanya kepada Grok, chatbot artificial intelligence/AI) milik Elon Musk, sebelum memerintahkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari 2026 lalu. Menurut majalah Time, kabar itu bersumber dari seorang pejabat yang hadir dalam rapat rahasia antara Trump dan Musk. Pertemuan itu berlangsung di Ruang Oval, Gedung Putih, pada Desember 2025. Identitas pejabat itu tidak disebutkan dan laporan tersebut belum dikonfirmasi secara resmi. Pejabat itu menyebut Trump menghabiskan berjam-jam menanyakan kepada Grok soal kepresidenannya dan warisannya.
Pada masa itu, Trump juga sedang memerintahkan serangan rudal ke kapal-kapal Venezuela yang ia tuduh menyelundupkan narkoba ke AS. Serangan militer AS terhadap kapal semacam itu sudah dimulai sejak September 2025, sekitar tiga bulan sebelum pertemuan di Ruang Oval tersebut.
Pejabat itu juga menyebut Trump bertanya soal reaksi warga Venezuela seandainya AS menangkap Maduro. Menurut dia, Grok menjawab bahwa Maduro adalah diktator represif dan sangat tidak populer. Grok juga disebut menjawab bahwa banyak warga Venezuela kemungkinan akan merayakan kejatuhannya.
Trump memerintahkan misi penangkapan Maduro pada bulan berikutnya. Setelah pasukan AS menangkap Maduro di Caracas, Trump mengumumkannya pada Sabtu (3/1/2026). Laporan itu menyebut perayaan pecah di jalanan setelahnya. Para pejabat mengatakan Trump kemudian menganggap Grok sangat jenius.
Maduro kini ditahan di penjara New York dan menunggu persidangan. Ia didakwa atas konspirasi narkoterorisme. Istilah itu merujuk pada perdagangan narkoba yang dikaitkan dengan terorisme. Dakwaan lain mencakup konspirasi mengimpor kokain ke AS serta kepemilikan senapan mesin dan perangkat peledak. Menurut dakwaan, ia bekerja sama dengan kartel narkoba internasional untuk memasukkan berton-ton kokain ke wilayah AS selama lebih dari 25 tahun. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, menyatakan tidak bersalah dalam sidang pertama mereka.
Dari "MechaHitler" sampai diblokir Komdigi
Grok sebelumnya beberapa kali menuai kontroversi. Chatbot itu dikembangkan xAI, perusahaan AI milik Musk. Grok pernah menyebarkan teori konspirasi tentang petani kulit putih di Afrika Selatan dan menyebut dirinya "MechaHitler". Chatbot tersebut juga pernah menyebut Musk lebih cerdas daripada Albert Einstein dan lebih bugar daripada LeBron James, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Gizmodo. Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sempat memblokir sementara aplikasi dan situs web Grok pada Sabtu (10/1/2026). Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut langkah tersebut untuk melindungi perempuan dan anak dari deepfake bermuatan seksual. Pada akhir Januari 2026, Komdigi membuka peluang pemblokiran permanen jika Grok tidak mematuhi aturan di Indonesia. Komdigi kemudian mulai membuka kembali akses ke Grok.
Dari Ruang Oval ke America.gov
Trump disebut kagum pada kemampuan AI sejak kembali menjabat. Laporan itu menyebut ia makin terpikat para eksekutif teknologi yang mendekatinya. Grok kini juga terhubung dengan layanan pemerintah AS. Pemerintah AS meluncurkan situs America.gov lewat perintah eksekutif Trump pada Selasa (29/9/2026), dengan Grok dan Gemini milik Google sebagai chatbot di dalamnya. Juru bicara Gedung Putih menyebut Grok memang menjadi mitra teknologi situs tersebut. Hingga berita ini ditulis, Gedung Putih, xAI, dan Musk belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.









Komentar (0)