DETIKANOA.COM–Serangan siber berskala besar menargetkan sistem pengendali pendingin di ratusan supermarket di Perancis pada akhir pekan lalu. Pelaku yang identitasnya belum diketahui berhasil mengakses sistem tersebut dari jarak jauh, sehingga suhu kulkas dan freezer di sejumlah toko melonjak hingga 50 derajat Celsius. Kondisi tersebut menyebabkan bahan makanan yang disimpan di dalam perangkat pendingin mengalami kerusakan dan tidak lagi layak disimpan. Otoritas Perancis menyebut serangan ini berdampak pada beberapa jaringan supermarket besar. Jaksa di Paris bahkan mengategorikan insiden tersebut sebagai serangan berskala besar.

Hingga kini, nilai kerugian keseluruhan akibat serangan belum dapat dipastikan. Selain menyebabkan kerusakan persediaan makanan, insiden ini juga dilaporkan memicu kebakaran di sejumlah lokasi. CEO Intermarche, Thierry Cotillard, mengatakan kepada stasiun televisi BFM TV bahwa kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai puluhan juta euro.

Sementara itu, kantor Perdana Menteri Perancis Sebastien Lecornu menyampaikan kepada Reuters bahwa Badan Keamanan Siber Nasional Perancis (ANSSI) sedang menyelidiki insiden tersebut. Hasil pemeriksaan awal mengindikasikan bahwa serangan kemungkinan berkaitan dengan celah keamanan pada sistem buatan Danfoss, perusahaan teknik asal Denmark. Danfoss menyatakan telah mengetahui insiden di Perancis yang memengaruhi sejumlah sistem pengelolaan pendingin. Perusahaan tersebut menduga penggunaan firmware versi lama menjadi faktor utama yang menyebabkan insiden terjadi.

Iklan
Iklan Smartech school
JMSI

Sejumlah jaringan supermarket terdampak 

Serangan siber tersebut diketahui mengganggu operasional sejumlah jaringan supermarket besar di Perancis. Berikut beberapa jaringan ritel yang dilaporkan terdampak: Les Mousquetaires (Intermarche): sekitar 150 toko mengalami dampak serangan. Carrefour: sekitar 80 toko terdampak. Monoprix: sekitar 5 persen dari total 490 toko di Perancis, atau sekitar 25 toko. Coopérative U: jumlah gerai yang terdampak belum diketahui secara pasti. Felix Aime, analis intelijen ancaman siber senior di Sekoia Threat Detection and Research, mengatakan bahwa organisasi di sejumlah negara Eropa lainnya juga diduga menjadi sasaran. Negara-negara tersebut mencakup Spanyol, Portugal, Polandia, Jerman, dan Belgia. Meski demikian, belum ada kepastian mengenai luasnya cakupan serangan maupun jumlah keseluruhan toko dan organisasi yang terdampak. CEO Coopérative U, Dominique Schelcher, mengatakan kepada The Guardian bahwa serangan terhadap perangkat yang berperan penting dalam menjaga kesegaran produk dan kelancaran pasokan pangan merupakan kejadian yang sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Sistem pendingin menjadi celah keamanan siber 

Insiden di Perancis tersebut memperlihatkan bahwa ancaman keamanan siber tidak hanya menyasar komputer, server, atau data perusahaan.

Perangkat teknologi operasional (operational technology/OT) yang mengendalikan peralatan fisik, termasuk sistem pendingin supermarket, juga berpotensi menjadi sasaran peretas.

Sejumlah perangkat operasional yang terhubung ke internet belum tentu dirancang dengan perlindungan keamanan siber yang memadai sejak awal. Kondisi ini dapat membuka peluang bagi pelaku untuk memperoleh akses ke sistem dan mengganggu aktivitas operasional perusahaan. Dalam berbagai kasus, pelaku ransomware dan kelompok ancaman siber lainnya menggunakan gangguan operasional sebagai cara untuk menekan korban. Dengan melumpuhkan peralatan atau sistem penting, pelaku dapat memaksa perusahaan menghentikan kegiatan bisnisnya dan menghadapi kerugian finansial. Dalam kasus yang terjadi di Perancis, Danfoss mengaitkan masalah tersebut dengan penggunaan firmware yang sudah usang. Namun, perusahaan belum mengungkapkan secara terperinci metode serangan yang digunakan maupun cara pelaku memperoleh akses ke sistem pendingin.

Serangan siber terhadap sektor ritel bukan hal baru 

Gangguan keamanan siber yang berdampak pada operasional bisnis juga pernah dialami perusahaan ritel lainnya. Pada tahun sebelumnya, peritel asal Inggris, Marks & Spencer, menjadi korban serangan siber yang mengganggu aktivitas bisnis dan menyebabkan kerugian penjualan sebesar 324 juta pound sterling atau sekitar Rp 7,7 triliun. Serangan terhadap Marks & Spencer merupakan bagian dari rangkaian insiden yang turut menyasar perusahaan ritel lain, termasuk Harrods.

Ancaman serupa juga semakin menjadi perhatian industri makanan dan minuman. Menurut laporan Food Navigator, serangan siber terhadap sektor tersebut menunjukkan tren peningkatan. Pelaku dinilai semakin mampu mengganggu kegiatan bisnis hingga perusahaan terpaksa menghentikan operasionalnya. Data dari perusahaan teknologi Infor yang dikutip Food Navigator menunjukkan bahwa persentase korban ransomware yang terpaksa menghentikan operasional meningkat dari 45 persen pada 2021 menjadi 58 persen pada 2025. Informasi mengenai insiden peretasan sistem pendingin supermarket di Perancis ini dihimpun KompasTekno dari Gizmodo.